itishom.web.id

Berbagi ilmu, menebar rahmat

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Email Cetak PDF

 

MEMANDIKAN, MENGKAFANI, DAN MENSHOLATI JENAZAH

 

A. Memandikan Jenazah

 

Pahala Menyelenggarakan Jenazah :

 

مَنْ غَسَّلَ مَيْتًا فَكَتَمَ عَلَيْهِ غَفَرَ اللهُ لَهُ أَرْبَِعِيْنَ مَرَّةً وَمَنْ كَفَّنَ مَيْتًا كَسَاهُ اللهُ مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ فِي الْجَنَّة ِوَمَنْ حَفَرَ

 

لِمَيِّتٍ قَبْرًا فأََجَنَّهُ فِيْهِ أَجْرَى اللهُ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ كَأَجْرِ مَسْكَنٍ أَسْكَنَّهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ (رواه الحاكم)

"Barangsiapa yang memandikan mayit dan menutupi aibnya, Allah akan ampuni dia 40 kali. Barangsiapa yang mengkafani mayit, Allah akan memberikan pakaian sutera yang halus dan sutera yang tebal di surga. Barangsiapa yang menggali kubur untuk mayit dan meletakkan padanya, Allah akan mengalirkan baginya pahala seperti pahala orang yang membuatkan rumah untuk saudaranya, terus mengalir sampai hari kiamat"(H.R al-Hakim)

 

Bersikap Lembut terhadap Mayit :

إِنَّ كَسْرَ عَظْمِ الْمَيِّتِ مَيْتًا كَمِثْلِ كَسْرِهِ حَيًّا (رواه أحمد)

" Sesungguhnya (dosa) mematahkan tulang mayit mukmin seperti (dosa) mematahkan tulang seorang mukmin yang masih hidup"(H.R Ahmad)

Siapa yang Memandikan ?

Orang yang berjenis kelamin sama dari pihak kerabat terdekat atau orang yang diberi wasiat, atau suami terhadap istri atau sebaliknya. Jika mayit berumur di bawah 7 tahun, maka laki-laki atau wanita boleh memandikannya. Hal ini karena Rasulullah shollallaahu 'alaihi wasallam dimandikan oleh Ali bin Abi Thalib dan beberapa Sahabat laki-laki yang lain (H.R Abu Dawud dari 'Aisyah), Abu Bakr as-Shiddiq berwasiat agar dimandikan isterinya – kemudian dibantu anaknya yang laki-laki- Abdurrahman bin Abi Bakr, Anas berwasiat agar dimandikan oleh Ibnu Sirin seorang tabi'i), dan Rasulullah tidak ikut serta dalam proses memandikan putrinya yang meninggal, hanya mengajarkan tata caranya sebagaimana hadits Ummu Athiyyah riwayat Muslim. Sedangkan pada waktu putera Rasulullah yang masih kecil bernama Ibrahim meninggal, beberapa Shohabiyyah (Sahabat Nabi wanita) memandikannya.

Melepaskan seluruh baju yang ada pada Mayit, Orang yang Memandikan Menggunakan kain pada tangannya

 

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ لَمَّا أَرَادُوا غَسْلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا وَاللَّهِ مَا نَدْرِي أَنُجَرِّدُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 

مِنْ ثِيَابِهِ كَمَا نُجَرِّدُ مَوْتَانَا أَمْ نَغْسِلُهُ وَعَلَيْهِ ثِيَابُهُ فَلَمَّا اخْتَلَفُوا أَلْقَى اللَّهُ عَلَيْهِمْ النَّوْمَ حَتَّى مَا مِنْهُمْ رَجُلٌ إِلَّا وَذَقْنُهُ فِي

 

صَدْرِهِ ثُمَّ كَلَّمَهُمْ مُكَلِّمٌ مِنْ نَاحِيَةِ الْبَيْتِ لَا يَدْرُونَ مَنْ هُوَ أَنْ اغْسِلُوا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِ ثِيَابُهُ فَقَامُوا إِلَى

 

رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَغَسَلُوهُ وَعَلَيْهِ قَمِيصُهُ يَصُبُّونَ الْمَاءَ فَوْقَ الْقَمِيصِ وَيُدَلِّكُونَهُ بِالْقَمِيصِ دُونَ أَيْدِيهِمْ

 

وَكَانَتْ عَائِشَةُ تَقُولُ لَوْ اسْتَقْبَلْتُ مِنْ أَمْرِي مَا اسْتَدْبَرْتُ مَا غَسَلَهُ إِلَّا نِسَاؤُهُ (رواه أبو داود)

"Dari 'Aisyah beliau berkata : Ketika para Sahabat akan memandikan Nabi Shollallaahu 'alaihi wasallam mereka berkata : Demi Allah kami tidak tahu apakah kamu harus melepaskan seluruh pakaian Rasulullah shollallaahu 'alaihi wasallam sebagaimana kami melepaskan seluruh pakaian mayit –mayit kami, atau kami memandikan beliau dalam keadaan beliau tetap menggunakan pakaiannya? Maka ketika mereka berselisih, Allah menidurkan mereka, sampai-sampai tidak ada seorangpun kecuali dagunya menempel pada dadanya. Tiba-tiba ada suara dari pojok rumah, yang tidak diketahui siapakah yang bersuara : 'Mandikanlah Nabi Shollallaahu 'alaihi wasallam dalam keadaan tetap memakai pakaian'. Maka kemudian bangkitlah para Sahabat tersebut memandikan beliau dalam keadaan tetap menggunakan pakaian, menuangkan air di atas kemejanya dan menggerakkan air tersebut dengan kemeja – tidak langsung dengan tangan mereka- . Dan Aisyah berkata : Jika seandainya aku mendapati kejadian ini di masa mendatang, niscaya tidaklah memandikan Nabi kecuali isteri-isterinya"(H.R Abu Dawud).

Mayit Ditutupi dengan Selembar Kain di Atasnya Sebelum dimandikan

 

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ تُوُفِّيَ سُجِّيَ بِبُرْدٍ حِبَرَةٍ (رواه البخاري)

" Bahwasanya Rasulullah shollallaahu 'alaihi wasallam ketika meninggal ditutupi dengan kain hibarah (kain dari Yaman berwarna putih bergaris-garis)(H.R al-Bukhari dari 'Aisyah)

Selembar kain tersebut

Tata Cara Memandikan

دَخَلَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَنَحْنُ نَغْسِلُ ابْنَتَهُ (زَيْنَبَ)، فَقَالَ: اِغْسِلْنَهَا ثَلاَثًا، أَوْ خَمْسًا (أَوْ سَبْعًا)، أَوْ أَكْثَرَ

 

مِنْ ذَلِكَ، إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ، (قَالَتْ: قُلْتُ: وِتْرًا؟ قَالَ: نَعَمْ)، وَاجْعَلْنَ فِي اْلاَخِرَةِ كَافُوْرًا أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُوْرَ، فَإِذَا فَرَغْتُنَّ

 

فَآذِنَّنِيْ، فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَناَّهُ، فَأَلْقَى إِلَيْنَا حَقْوَهُ  فَقَالَ: أَشْعِرْنَهَا  إِيَّاهُ (تَعْنِي إِزَارَهُ)، (قَالَتْ: وَمَشَطْنَاهَا ثَلاَثَةَ (قُرُوْنٍ)، (وَفِي

 

رِوَايَةٍ: نَقَضْنَهُ ثُمَّ غَسَلْنَهُ) (فَضَفَّرْنَا شَعْرَهاَ ثلَاَثَةَ أَثُلَاثٍ: قَرْنَيْهَا وَنَاصِيَتِهَا) وَأَلْقَيْنَاهَا)، (قَالَتْ: وَقَالَ لَنَا: ابْدَأْنَ بِمَيَامِنِهَا

 

وَمَوَاضِعِ الْوُضُوْءِ مِنْهَا) (رواه البخاري و مسلم وأبو داود والنسائي والترمذي وابن ماجه  وابن الجارود واحمد)

" Nabi shollallahu 'alaihi wasallam mendatangi kami pada saat kami sedang memandikan jenazah putri beliau, lalu beliau bersabda : 'Mandikanlah ia tiga kali, lima kali, atau tujuh kali, atau lebih dari itu jika kalian memandang perlu. Ummu Athiyyah berkata : apakah ganjil? Beliau menjawab : Ya. Dan jadikanlah pada yang terakhir adalah kapur barus atau sesuatu darinya. Jika kalian telah selesai, maka beritahukanlah aku. Maka ketika telah selesai, kami memberitahukan kepada beliau. Kemudian beliau melemparkan kepada kami kainnya (sarungnya), kemudian beliau berkata : Selimutkanlah ini kepadanya. (Kata Ummu Athiyyah): Kami sisir rambutnya menjadi tiga belahan. (Dalam suatu riwayat): Kami lepas jalinan rambutnya, kemudian kami keramasi. (Lalu kami jalin rambutnya menjadi 3 jalinan : dua di kanan kiri dan satu di jambulnya). (dan kami letakkan jalinan-jalinan itu di belakang). (Kata Ummu Athiyyah: Rasul bersabda : Mulailah dari anggota tubuh sebelah kanan dan tempat – tempat wudhu'nya)(H.R al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasaai, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnul Jarud, dan Ahmad)

 

B. Mengkafani Jenazah

Membaguskan dalam mengkafani

إِذَا كَفَّنَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُحَسِّنْ كَفَنَهُ (رواه مسلم)

" Jika salah seorang dari kalian mengkafani saudaranya , hendaknya membaguskan proses mengkafaninya"(H.R Muslim)

Kafan yang bagus adalah bersih, panjang, lebar, tebal menutupi seluruh tubuh, bukan berarti mahal dan mewah.

Diutamakan Kain Kafan adalah Dari Harta si Mayit

كَفِّنُوْهُ فِي ثَوْبَيْهِ (رواه أبو داود)

" Kafanilah dengan pakainnya"(H.R Abu Dawud)

Kain Kafan Berwarna Putih, Namun Kalau memungkinkan Salah Satunya adalah Hibarah (Bergaris dengan warna Dominan Putih)

 

الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمْ الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ (رواه أبو داود)

" Pakailah pakaian kalian yang berwarna putih, karena itu adalah pakaian kalian terbaik, dan kafanilah mayit kalian dengannya"(H.R Abu Dawud)

مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلْيُكَفِّنْ فِي ثَوْبِ حِبَرَةٍ (رواه أحمد)

"Barangsiapa yang mendapati keluasan rezeki, hendaknya berkafan dengan pakaian hibarah"(H.R Ahmad)

Kain Kafan Berjumlah 3 :

أَنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ قَالَ لِعَائِشَةَ وَهُوَ مَرِيضٌ فِي كَمْ كُفِّنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ فِي

 

ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ بِيضٍ سُحُولِيَّةٍ

" Bahwa Abu Bakr as-Shiddiq bertanya kepada 'Aisyah dalam keadan beliau sakit : Berapa jumlah kain kafan Rasulullah shollallaahu 'alaihi wasallam? Aisyah menjawab : 3 pakaian putih suhuliyyah"(H.R Malik)

Memberi Wewangian pada Kain Kafan Kecuali Orang yang Berihram

إِذَا جَمَّرْتُمُ الْمَيِّتَ  فَأَجْمِرُوْهُ ثَلاَثًا

" Jika kalian mengasapi (kain kafan) mayit  dengan wewangian maka asapilah sebanyak tiga kali"(H.R Ibnu Hibban, al-Hakim, dan al-Baihaqy).

 

C Mensholati Jenazah

Jumlah takbir bisa 4,5, sampai 9 kali. Namun yang masyhur adalah 4 kali :

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى قَالَ كَانَ زَيْدٌ يُكَبِّرُ عَلَى جَنَائِزِنَا أَرْبَعًا وَإِنَّهُ كَبَّرَ عَلَى جَنَازَةٍ خَمْسًا

 

فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكَبِّرُهَا (رواه مسلم)

" Dari Abdurrahman bin Abi Layla bahwa dulu Zaid bin Arqam bertakbir terhadap jenazah-jenazah kami sebanyak 4 kali, pada suatu ketika dia bertakbir atas jenazah sebanyak 5 kali, kemudian aku bertanya kepadanya. Beliau berkata : Demikianlah Rasulullah shollallaahu 'alaihi wasallam bertakbir" (H.R Muslim)

Tata Cara Mensholati Jenazah :

أن السنة في الصلاة على الجنازة أن يكبر الامام، ثم يقرأ بفاتحة الكتاب بعد التكبيرة الاولى سرا في نفسه، ثم

 

يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم، ويخلص الدعاء للجنازة في التكبيرات (الثلاث)، لا يقرأ في شئ منهم، ثم

 

يسلم سرا في نفسه (حين ينصرف (عن يمينه)، والسنة أن يفعل من وراءه مثلما فعل إمامه)

"Bahwasanya Sunnah dalam sholat jenazah adalah imam melakukan takbiratul ihram, kemudian membaca al-Fatihah secara sirr setelah takbir pertama, kemudian bersholawat atas Nabi, dan mengikhlaskan doa untuk jenazah setelah takbir-takbir selanjutnya (3 takbir), tidak membaca sesuatu dariya, kemudian mengucapkan salam secara sirr, ketika menoleh ke kanan, dan termasuk Sunnah makmum mengikuti seperti perbuatan imamnya"(H.R asy-Syafi'i dalam al-Umm)

Jika Jenazah Pria, Imam Berdiri Sejajar Kepala, sedangkan jika jenazah wanita Imam berdiri sejajar tengah tengah jenazah

Doa- Doa yang Disyariatkan :

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ

 

مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ

 

وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ (رواه مسلم)

 

 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا

 

فَأَحْيِهِ عَلَى الْإِسْلَامِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الْإِيمَانِ اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تُضِلَّنَا بَعْدَهُ

(رواهابن ماجه)

 

 

اللَّهُمَّ إِنَّ فُلَانَ بْنَ فُلَانٍ فِي ذِمَّتِكَ فَقِهِ فِتْنَةَ الْقَبْرِ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ مِنْ ذِمَّتِكَ وَحَبْلِ جِوَارِكَ فَقِهِ

 

مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ وَأَنْتَ أَهْلُ الْوَفَاءِ وَالْحَمْدِ اللَّهُمَّ فَاغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ

 

الرَّحِيمُ (رواه أبو داود)

 
Di baca: 52

Info terbaru


Sedang online

Ada 1 tamu online