itishom.web.id

Berbagi ilmu, menebar rahmat

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Email Cetak PDF

SIKAP MUSLIM TERHADAP SESAMANYA

 

Menahan Diri untuk tidak Mengganggu Orang Lain

 

عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ فَقَالُوا يَا نَبِيَّ اللَّهِ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ قَالَ يَعْمَلُ بِيَدِهِ فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ قَالُوا فَإِنْ لَمْ يَجِدْ

 

قَالَ يُعِينُ ذَا الْحَاجَةِ الْمَلْهُوفَ قَالُوا فَإِنْ لَمْ يَجِدْ قَالَ فَلْيَعْمَلْ بِالْمَعْرُوفِ وَلْيُمْسِكْ عَنْ الشَّرِّ فَإِنَّهَا لَهُ صَدَقَةٌ

 

“Hendaknya bagi setiap muslim bershodaqoh. (Para Sahabat bertanya) : wahai Nabi Allah, bagaimana kalau seseorang tidak mendapatkan (sesuatu untuk dishodaqohkan)?Nabi bersabda : ‘Hendaknya dia berusaha dengan tangannya untuk memberikan manfaat dirinya dan bershodaqoh. (Para Sahabat bertanya): Bagaimana kalau dia tidak mendapatkannya? Rasul bersabda : Hendaknya dia menolong seseorang yang membutuhkan dan meminta tolong. (Para sahabat bertanya); Bagaimana kalau dia tidak mendapatkan?Rasul bersabda : ‘Handaknya dia melakukan amal ma’ruf dan menahan diri dari keburukan, maka sesungguhnya itu adalah shodaqoh”(H.R al-Bukhari).

 

 

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

 

Seorang muslim itu adalah yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya dan orang yang berhijrah itu adalah orang yang berhijrah dari sesuatu yang dilarang oleh Allah” (H.R al-Bukhari)

 

Al-Ahnaf bin Qoys (salah seorang Sahabat Nabi) menyatakan :

 

اْلكَلاَمُ بِالْخَيْرِ أَفْضَلُ مِنَ السُّكُوْتِ وَالسُّكُوْتُ خَيْرٌ مِنَ اْلكَلاَمِ بِاللَّغْوِ وَاْلبَاطِلِ وَاْلجَلِيْسُ الصَّالِحُ خَيْرٌ مِنَ اْلوِحْدَةِ

 

وَاْلوِحْدَةُ خَيْرٌ مِنْ جَلِيْسِ السُّوْءِ

“Mengucapkan kalimat yang baik lebih baik dari diam, dan diam lebih baik dari ucapan yang sia-sia dan batil. Duduk bersama orang sholih lebih baik dari menyendiri. Menyendiri lebih baik dari duduk bersama orang yang jahat “(‘atsar ini disebutkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitab ‘At-Tamhiid’ juz 17 hal 447)

 

Jangan Menjadi Orang yang Bangkrut

 

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ

 

وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ

 

حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ

 

فِي النَّارِ   (رواه مسلم)

 

“ Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut? Para Sahabat berkata : Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki uang ataupun barang. Rasul bersabda : Sesungguhnya seorang yang bangkrut dari kalangan umatku adalah seseorang yang datang pada hari qiamat dengan membawa pahala sholat, shoum, zakat, selain itu dia telah mencela orang ini, menuduh orang ini, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini, memukul ini, sehingga diberikanlah kebaikannya kepada ini dst... sampai jika telah habis kebaikannya sebelum ditetapkan hukuman untuknya, kesalahan orang-orang tersebut diberikan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke an-naar”(H.R Muslim)

 

Membersihkan Hati dari Perasaan Hasad

عن أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ كُنَّا جُلُوسًا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَطْلُعُ عَلَيْكُمْ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ

 

الْجَنَّةِ فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ تَنْطِفُ لِحْيَتُهُ مِنْ وُضُوئِهِ قَدْ تَعَلَّقَ نَعْلَيْهِ فِي يَدِهِ الشِّمَالِ فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ قَالَ النَّبِيُّ

 

صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَ ذَلِكَ فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ مِثْلَ الْمَرَّةِ الْأُولَى فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الثَّالِثُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ

 

عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَ مَقَالَتِهِ أَيْضًا فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ عَلَى مِثْلِ حَالِهِ الْأُولَى فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبِعَهُ

 

عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقَالَ إِنِّي لَاحَيْتُ أَبِي فَأَقْسَمْتُ أَنْ لَا أَدْخُلَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا فَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تُؤْوِيَنِي إِلَيْكَ

 

حَتَّى تَمْضِيَ فَعَلْتَ قَالَ نَعَمْ قَالَ أَنَسٌ وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ يُحَدِّثُ أَنَّهُ بَاتَ مَعَهُ تِلْكَ اللَّيَالِي الثَّلَاثَ فَلَمْ يَرَهُ يَقُومُ مِنْ

 

اللَّيْلِ شَيْئًا غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا تَعَارَّ وَتَقَلَّبَ عَلَى فِرَاشِهِ ذَكَرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَبَّرَ حَتَّى يَقُومَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ

 

غَيْرَ أَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا فَلَمَّا مَضَتْ الثَّلَاثُ لَيَالٍ وَكِدْتُ أَنْ أَحْتَقِرَ عَمَلَهُ قُلْتُ يَا عَبْدَ اللَّهِ إِنِّي لَمْ يَكُنْ

 

بَيْنِي وَبَيْنَ أَبِي غَضَبٌ وَلَا هَجْرٌ ثَمَّ وَلَكِنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ يَطْلُعُ

 

عَلَيْكُمْ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَارٍ فَأَرَدْتُ أَنْ آوِيَ إِلَيْكَ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ فَأَقْتَدِيَ بِهِ

 

فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ فَمَا الَّذِي بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ

 

قَالَ فَلَمَّا وَلَّيْتُ دَعَانِي فَقَالَ مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا وَلَا أَحْسُدُ

 

أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللَّهُ إِيَّاهُ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ   (رواه أحمد)

 

Dari Anas bin Malik beliau berkata : Kami pernah duduk bersama Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda : sebentar lagi akan muncul di hadapan kalian seorang laki-laki penduduk jannah. Muncullah seorang laki-laki dari Anshar, jenggotnya (basah) meneteskan bekas wudhu’, dia mengikatkan dua sandalnya pada tangan kirinya. Besoknya Rasul menyatakan hal itu lagi, dan muncullah dia lagi. Pada hari yang katiga Rasul mengucapkan seperti itu, dan dia lagi-lagi muncul seperti keadaan semula. Ketika Rasul bangkit, Abdullah bin Amr bin Ash mengikuti orang tersebut, dan berkata kepadanya : Aku sudah berkata pada ayahku dan bersumpah padanya bahwa tidak akan masuk rumahnya sampai tiga hari. Kalau engkau bersedia memberikan tempat menginap bagiku sampai ( 3 hari), aku akan melakukannya. Orang itu berkata : Baiklah. Abdullah bin Amr menceritakan bahwa dia menginap 3 malam, tidak melihat dia bangun sedikitpun pada waktu malam kecuali jika dia terbangun atau membalikkan badan berdzikir kepada Allah dan bertakbir sampai dia bangun untuk sholat Subuh. Abdullah berkata : Aku tidak pernah mendengarnya berbicara kecuali kebaikan. Ketika pada hari ke-tiga hampir saja aku meremehkan amalannya, aku berkata : wahai hamba Allah, sebenarnya tidak ada masalah apa-apa antara diriku dengan ayahku, tapi aku mendengar Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam berkata tentangmu 3 kali : Akan muncul di hadapan kalian seorang penduduk jannah, maka engkau muncul 3 kali. Maka aku ingin untuk menginap di rumahmu untuk melihat amalanmu dan mencontohnya. Aku tidak melihatmu melakukan amalan yang banyak. Apa yang menyebabkan engkau sampai pada keadaan yang dikhabarkan Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam? Dia menjawab : ‘Tidak ada kecuali apa yang engkau lihat’. Ketika aku handak pulang, dia memanggilku dan berkata : Tidak ada kecuali yang engkau lihat, kecuali aku tidak mendapati dalam hatiku terhadap seorang muslimpun dendam dan aku tidak pernah hasad pada seorangpun terhadap kebaikan yang Allah berikan kepadanya. Abdullah bin Amr berkata : Inilah yang menyampaikan engkau, dan kami tidak mampu melakukannya (H.R Ahmad, al-Haitsamy berkata bahwa rijaal Ahmad adalah rijaal shohiih

 

Tidak Begitu Berminat untuk Menuntut Balas atas Pribadinya, Namun Menjadi Orang Terdepan dalam Membela Agama Allah

 

 

وَجَزَآءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ (الشورى :40)

 

“ Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan membikin perbaikan maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim”(Q.S Asy-Syuura:40)

 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ

 

أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ وَمَا انْتَقَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ

 

وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ إِلَّا أَنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ اللَّهِ فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ بِهَا  

 

“ Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anha beliau berkata : Tidaklah Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam diberi pilihan 2 hal kecuali beliau memilih yang paling mudah di antara keduanya selama tidak mengandung dosa. Jika mengandung dosa, maka beliau adalah orang yang paling jauh dari hal itu. Dan beiau tidak pernah membalas karena pribadinya, kecuali jika kehormatan (agama) Allah dilanggar, maka beliau membalasnya karena Allah”(H.R al-Bukhari-Muslim)

 
Di baca: 56

Info terbaru


Sedang online

Ada 3 tamu online