MEMAKMURKAN MASJID DENGAN SHOLAT BERJAMAAH
Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman :
رِجَالٌ لاَّ تُلْهِيْهِمْ تِجَارَةٌ وَلاَ بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَآءِ الزَّكَاةِ يَخَافُوْنَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ
فِيْهِ الْقُلُوْبُ وَاْلأَبْصَارُ (37) لِيَجْزِيَهُمُ اللهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوْا وَيَزِيْدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللهُ يَرْزُقُ
مَنْ يَشَآءُ بِغَيْرِ
حِسَابٍ (38)(النور : 37-38)
“laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan sholat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada apa yang dikehendaki-Nya tanpa batas (Q.S An-Nuur : 37-38)
Seorang Sahabat Nabi bernama Ibnu Mas’ud pernah melihat sekelompok orang yang berada di pasar, ketika mendengar seruan adzan, mereka bersegera meninggalkan jual beli dan berangkat untuk sholat (di masjid). Melihat hal itu Ibnu Mas’ud menyatakan : “Mereka ini adalah orang-orang yang Allah sebutkan dalam AlQur’an :…(Q.S AnNuur ayat 37 tsb). Demikian juga, Sahabat Nabi yang lain, Ibnu Umar, pernah melihat seseorang yang berada di pasar, ketika mendengar adzan orang tersebut segera menutup tokonya dan berangkat menuju masjid. Ibnu Umar menyatakan : “ Tentang mereka inilah Allah menurunkan ayat :…(Q.S AnNuur :37 tsb). ( Tafsir Ibnu katsir 5/416)
Mendatangi sholat berjamaah di masjid bagi seorang laki-laki yang mendengar adzan dan tidak memiliki udzur adalah wajib berdasarkan pendapat Sahabat Nabi Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud. Hal ini berdasarkan dalil-dalil berikut :
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّّمَ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّهُ لَيْسَ ِليْ قَائِدٌ
يَقُوْدُنِيْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِيْ بَيْتِهِ فَرَخَّصَ
لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ فَقَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ (رواه مسلم)
“Dari Abu Hurairah, beliau berkata : telah datang seorang laki-laki buta menghadap Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alaihi wasallam kemudian berkata : ‘ Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya tidak mempunyai seseorang yang bisa menuntun saya menuju masjid. Kemudian dia meminta keringanan (untuk tidak sholat di masjid), sehingga dia bisa sholat di rumahnya. Maka kemudian Nabi memberikan keringanan kepadanya. Ketika dia berbalik akan pulang, Rasul memanggilnya lagi dan bertanya : ‘Apakah engkau mendengar adzan ?’ . Dia menjawab : ‘Ya’. Maka Rasul bersabda : ‘ Maka penuhilah panggilan adzan itu (sholatlah di masjid) ( H.R Muslim dalam Shahihnya kitab al-masaajid wa maadli’us sholaah bab yajibu ityaanul masjid ‘alaa man sami’a an-Nidaa’ hadits nomor 1044 )
قاَلَ عَبْدُ اللهِ لَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنِ الصَّلاَةِ إِلاَّ مُنَاِفقٌ قَدْ عُلِمَ نِفَاقُهُ أَوْ مَرِيْضٌ إِنْ كَانَ الْمَرِيْضُ
لَيَمْشِيْ بَيْنَ رَجُلَيْنِ حَتَّى يَأْتِيَ الصَّلاَةَ وَقَالَ إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَنَا سُنَنَ الْهُدَى
وَإِنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى الصَّلاَةُ فِي الْمَسْجِدِ الَّذِي يُؤَذَّنَ فِيْهِ (رواه مسلم)
“ Abdullah (Ibnu Mas’ud) berkata : Sungguh kami telah melihat (di masa kami) bahwa tidaklah seseorang yang meninggalkan sholat (berjamaah di masjid) kecuali orang munafiq yang telah jelas kemunafiqannya atau sakit. Jika seseorang sakit, ia masih dipapah oleh dua orang sehingga bisa masih bisa menghadiri sholat (berjamaah di masjid). Dan sesungguhnya Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kami Sunnah di atas petunjuk. Dan sesungguhnya termasuk sunnah di atas petunjuk (beliau) adalah sholat di masjid yang dikumandangkan adzan padanya”( H.R Muslim dalam Shahihnya kitab al-masaajid wa maadli’us sholaah bab sholaatul jamaa’ah min sunanil hudaa hadits nomor 1045)
عَنْ عَبْدِ اللهِ قاَلَ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلاَءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ
فَإِنَّ اللهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِي
بُيُوْتِكُمْ كَمَا يُصَلِّي هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِيْ بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ وَمَا مِنْ رَجُلٍ
يَتَطَهَّرُ فَيُحْسِنُ الطُّهُوْرَ ثُمَّ يَعْمِدُ إِلَى مَسْجِدٍ مِنْ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ إِلاَّ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍٍ يَخْطُوْهَا
حَسَنَةً وَيَرْفَعُهُ بِهَا دَرَجَةً وَيَحُطُّ عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُوْمُ النِّفَاقُ
وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ (رواه مسلم)
“
Dari Abdillah (Ibnu Mas’ud), beliau berkata : Barangsiapa yang senang berjumpa Allah nanti dalam keadaan muslim, maka hendaknya menjaga (mendatangi) sholat-sholat lima waktu(berjamaah) ini di saat ada panggilan adzan. Karena sesungguhnya Allah mensyariatkan kepada Nabi kalian shollallaahu ‘alaihi wasallam sunnah di atas petunjuk. Dan sesungguhnya sholat (berjama’ah 5 waktu tersebut) adalah termasuk sunnah di atas petunjuk. Kalau seandainya kalian sholat (fardlu) di rumah kalian sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang meninggalkan (sholat berjamaah) dengan sholat di rumahnya, niscaya kalian telah meninggalkan Sunnah Nabi kalian, jika kalian meninggalkan Sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat. Tidaklah seseorang bersuci (berwudlu’) dan menyempurnakan wudlu’nya kemudian dia berangkat menuju masjid kecuali Allah tulis bagi dia satu langkah kaki satu kebaikan, dan mengangkat satu derajat, dan menghapus baginya satu keburukan. Dan sungguh aku melihat di kalangan kami (para sahabat Nabi), tidaklah seseorang meninggalkan (sholat berjamaah di masjid) kecuali seorang munafiq yang telah jelas kemunafiqannya. Dan sungguh (aku melihat) ada seseorang laki-laki yang dipapah oleh 2 orang laki-laki lain untuk (dibantu) berdiri pada shaf (sholat)(H.R Muslim dalam Shahihnya kitab al-masaajid wa maadli’us sholaah bab sholaatul jamaa’ah min sunanil hudaa hadits nomor 1046)





