TAFSIR SURAT AT-TAKAATSUR
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1)
“Telah melalaikan kalian at-Takaatsur”
At-Takaatsur = sikap mengumpulkan atau memperbanyak sesuatu.
Dalam ayat ini Allah Subhaanahu Wa Ta’ala tidak menyebutkan apa yang dikumpulkan atau diperbanyak tersebut. Karena hal itu bersifat umum dan menyeluruh, mencakup segala hal yang diperbanyak/ dikumpulkan dan dibangga-banggakan (dalam urusan dunia).
Bisa berupa harta, anak, penolong, tentara, pembantu, kedudukan/pangkat, bangunan, tanaman, atau ilmu yang tidak ditempuh untuk mencari keridlaan Allah, ataupun amalan yang dilakukan bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Semua itu adalah segala hal yang bisa melalaikan dari Allah dan kampung akhirat (Lihat Tafsir al-Qoyyim dan Tafsir as-Sa’di)
Allah menyebutkan dalam ayat yang lain bahwa kehidupan dunia ini adalah tempat main-main, melalaikan, saling bangga dan takaatsur di antara manusia :
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia adalah permainan, melalaikan, perhiasan, dan saling berbangga di antara kalian, dan takaatsur (saling memperbanyak) harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaanNya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (Q.S alHadiid:20).
Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَخْشَى عَلَيْكُمْ الْفَقْرَ وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ التَّكَاثُرَ وَمَا أَخْشَى عَلَيْكُمْ الْخَطَأَ وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ الْعَمْدَ
Dari Abu Hurairah beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Aku tidak mengkhawatirkan kefakiran (kemiskinan) menimpa kalian, akan tetapi aku mengkhawatirkan kalian bersikap atTakaatsur. Aku tidak takut kalian berbuat kesalahan karena ketidaksengajaan, tapi aku mengkhawatirkan kalian (melakukan kesalahan) karena sengaja (H.R Ahmad dan alHakim, adz-Dzahaby menyatakan shahih sesuai syarat Muslim).
حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2)
“Sampai kalian berziarah (masuk) ke dalam kubur”
Allah menyebutkan bahwa manusia terlalaikan oleh atTakaatsur dari berdzikir dan menjalankan ketaatan kepada Allah dalam kehidupan dunia, dan itu terus berlangsung sampai mereka meninggal (masuk ke dalam kubur).
Dalam ayat ini, seorang yang meninggal dan dimakamkan di dalam kubur disebut dengan istilah : ‘berziarah’ ke dalam kubur. Hal itu menunjukkan keadaan mereka di dalam kubur hanyalah sementara, mereka akan dibangkitkan, dan tempat berakhirnya adalah di jannah (surga) atau anNaar (neraka).
Karena itu Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin melarang penggunaan istilah ‘menuju peristirahatan terakhir’ yang banyak diucapkan orang ketika mengisyaratkan seseorang yang telah meninggal (Lihat Tafsir Juz Amma Syaikh alUtsaimin). Karena seorang yang meninggal, ia menuju alam barzakh, dan itu hanyalah tempat persinggahan sementara, bukan akhir. Istilah tersebut adalah istilah yang batil dan dinukil dari orang-orang yang tidak meyakini kebangkitan manusia setelah meninggal dunia (kafir).
Dalam ayat ini terkandung dalil tentang adanya adzab kubur, karena Allah mengkhabarkan kepada kaum yang terlalaikan dari atTakaatsur akan apa yang akan mereka hadapi di alam kubur sebagai bentuk ancaman dan peringatan keras bagi mereka (Lihat Tafsir atThobary).
كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (3)
“Sungguh, kalian akan mengetahuinya”
Artinya, kalian akan mengetahui ketika kalian kembali menuju kampung akhirat bahwa perbuatan takaatsur yang kalian lakukan tidaklah bermanfaat sama sekali bagi kalian (Tafsir Juz Amma Syaikh alUtsaimin)
Disebutkan dalam hadits:
عَنْ مُطَرِّفٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْرَأُ أَلْهَاكُمْ التَّكَاثُرُ قَالَ يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِي مَالِي قَالَ وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ
Dari Mutharrif dari ayahnya ia berkata: Saya mendatangi Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam sedangkan beliau sedang membaca : Alhaakumut Takaatsur. Beliau bersabda: Anak Adam berkata: hartaku…hartaku…Padahal tidaklah ada dari hartamu kecuali yang engkau makan kemudian lenyap, atau (pakaian) yang kau pakai kemudian usang, atau yang kau shodaqohkan dan jadi simpananmu (di akhirat) (H.R Muslim).
Allah berikan penekanan pada ayat selanjutnya:
ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (4)
“Kemudian, sungguh mereka akan mengetahuinya”
Sebagian Ulama’ menyatakan bahwa ayat ke-4 ini bukan sekedar penegasan terhadap ayat ke-3. Namun dua ayat tersebut mengkhabarkan keadaan yang berbeda. Ayat yang ke-3 menyatakan bahwa mereka akan mengetahuinya saat meninggal dunia, sedangkan ayat yang ke-4 menjelaskan bahwa mereka akan mengetahuinya saat di alam kubur. Ini adalah pendapat al-Hasan al-Bashri yang dikuatkan oleh Ibnul Qoyyim (Lihat atTafsiirul Qoyyim).
كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ (5)
“Sungguh, kalau seandainya mereka mengetahuinya secara ilmul yaqin”
Artinya, wahai sekalian manusia, kalau seandainya kalian mengetahuinya secara ilmu yaqin bahwa Allah akan membangkitkan kalian pada hari kiamat setelah kematian dari kubur kalian, niscaya kalian tidak akan mau terlalaikan dengan atTakaatsur dari menjalankan ketaatan kepada Allah Tuhan kalian, dan kalian akan bersegera beribadah kepadaNya, dan segera memenuhi perintah dan laranganNya, dan kalian akan meninggalkan (hal-hal yang melalaikan dalam kehidupan) dunia, karena kalian akan khawatir adzab menimpa diri kalian (Tafsir atThobary).
لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (6)
“Sungguh-sungguh kalian akan melihat (neraka) al-Jahim “
Semua manusia tanpa terkecuali akan melihat neraka pada saat mereka melintasi shirath, kemudian Allah selamatkan orang beriman. Sedangkan orang kafir masuk ke dalam anNaar tersebut. Sebagaimana Allah berfirman:
وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا (71) ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا (72)
Dan tidak ada seorangpun darimu kecuali melintasi neraka tersebut. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang dzhalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut (Q.S Maryam: 71-72).
Sebagaimana dijelaskan dalam ayat yang lain:
وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِمَنْ يَرَى
dan ditampakkan al-Jahim (neraka) bagi yang melihat (Q.S anNaazi’aat:36).
Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah menjelaskan: “semua yang memiliki penglihatan pada hari itu bisa melihat dengan jelas dengan mata kepalanya” (at-Tafsiirul Qoyyim juz 1 halaman 310).
Pada hari kiamat neraka diseret untuk ditampakkan pada manusia, sebagaimana disebutkan dalam ayat yang lain:
وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ…
“pada hari itu Jahannam didatangkan…” (Q.S alFajr:23).
Sebagaimana dijelaskan dalam hadits:
يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زِمَامٍ مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا
Didatangkan Jahannam pada hari itu, ia memiliki 70 ribu tali kekang. Setiap tali kekang ditarik oleh 70 ribu Malaikat (H.R Muslim)
Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَرَأَى الْمُجْرِمُونَ النَّارَ فَظَنُّوا أَنَّهُمْ مُوَاقِعُوهَا وَلَمْ يَجِدُوا عَنْهَا مَصْرِفًا
Dan orang-orang pendosa melihat anNaar (neraka) kemudian mereka yakin bahwa mereka akan masuk ke dalamnya dan tidak bisa menghindar darinya (Q.S alKahfi:53).
Ibnu Katsir menjelaskan:
Sesungguhnya ketika melihat Jahannam didatangkan dengan dikendalikan oleh 70 ribu tali kendali dan pada setiap kendali terdapat 70 ribu Malaikat, ketika para pendosa melihat anNaar (neraka), nampak jelas bahwa tidak ada tempat menghindar bagi mereka bahwa mereka akan masuk ke dalamnya. Yang demikian itu adalah disegerakannya perasaan cemas dan kesedihan mendalam bagi mereka…(Tafsir Ibnu Katsir).
Kemudian, Allah Subhaanahu wa Ta’ala menyatakan:
ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (7)
“Kemudian, sungguh mereka akan melihatnya (anNaar) secara ainul yaqin”
Artinya: sungguh orang – orang musyrikin tersebut akan melihat anNaar dengan mata kepala mereka sendiri sehingga mereka sampai pada tahapan keyakinan : ainul yaqin.
Ibnul Qoyyim menjelaskan bahwa keyakinan memiliki tingkatan-tingkatan. Tahap pertama adalah ilmu yaqin, yaitu ilmu (pengetahuan) yang didasarkan oleh dalil – dalil argumen yang ia dengar. Seseorang yang mengetahui adanya Jannah dan anNaar di dunia berdasarkan dalil-dalil yang kuat, maka ia meyakini hal tersebut secara ilmu yaqin (sebagaimana disebutkan juga dalam surat atTakaatsur ini ayat 5) . Kemudian, ketika ditampakkan Jannah dan anNaar secara langsung, akan bertambah keyakinan tersebut menjadi ainul yaqin, yaitu keyakinan yang lebih dan bertambah karena ia melihatnya secara langsung dengan mata kepala sendiri. Nanti, saat penduduk Jannah masuk ke dalam Jannah dan penduduk anNaar masuk ke dalam anNaar dan merasakan secara langsung di dalamnya, maka keyakinan mereka sudah sampai pada haqqul yaqin. (Disarikan dari penjelasan dalam Madaarijus Saalikin juz 1 halaman 472).
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ (8)
“Kemudian sungguh – sungguh mereka akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan”
Setiap orang, baik mukmin atau kafir akan ditanya oleh Allah tentang kenikmatan yang telah Allah anugerahkan kepada mereka di dunia. Pertanyaan pertama adalah tentang dari mana dan bagaimana ia dapatkan kenikmatan tersebut. Secara halal ataukah haram. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana ia mensyukuri nikmat tersebut? Apakah ia gunakan untuk menjalankan ketaatan kepada Allah atau tidak. (atTafsiirul Qoyyim).
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ
“Tidaklah berpindah kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ditanya tentang umurnya, dalam hal apa ia habiskan, tentang ilmunya dalam hal apa ia amalkan, tentang hartanya, dari mana ia dapatkan dan ke mana ia belanjakan, dan tentang tubuhnya, bagaimana ia gunakan (untuk ketaatan kepada Allah atau tidak)(H.R atTirmidzi).
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي الْعَبْدَ مِنْ النَّعِيمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ وَنُرْوِيَكَ مِنْ الْمَاءِ الْبَارِدِ
Sesungguhnya pertama kali seorang hamba akan ditanya tentang kenikmatan: ‘Bukankah telah kami sehatkan tubuhmu, dan kami hilangkan dahagamu dengan air yang dingin’ (H.R atTirmidzi(
Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam pernah keluar dari rumah dalam keadaan lapar berjumpa dengan Abu Bakr dan Umar yang juga dalam keadaan lapar. Kemudian mereka bertamu ke rumah Sahabat Anshar dan mendapat jamuan darinya. Setelah menikmati hidangan yang disajikan, Nabi berkata kepada Abu Bakr dan Umar :
لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ الْجُوعُ ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ
Sungguh-sungguh kalian akan ditanya tentang kenikmatan ini pada hari kiamat. Kalian keluar dari rumah dalam keadaan lapar, kemudian tidaklah kembali kecuali setelah mendapatkan kenikmatan ini (H.R Muslim).
(Abu Utsman Kharisman)





